Ksatria & Bintang Jatuh, Takaran yang Pas dan Nada Samsara
March 30th, 2009 by luthfi-nrAkhirnya aku angkat kepalaku dari meja marmer antik yang ada di bale rumah raja tanah Jawa itu. Aku tertawa kecil, yang kemudian diikuti pandangan tanya darinya…. dan aku menjawab, “Supernova! Ksatria dan Bintang Jatuh…”. dia masih belum mengerti, kutatap matanya yang dari tadi memandangku penuh arti. Kemudian aku mulai menceritakan kisah Re dan Rana di sebuah novel karya Dewi Lestari. Aku bilang bahwa diriku dari dulu selalu mengagumi karakter Re di novel itu, dan ternyata sekarang aku berkesempatan mengalami apa yang dialami Re, dan menjalani sendiri kisah di buku yang pernah menjadi kitab suci-ku itu.
Kemudian aku mulai mencari padanan tokoh-tokoh lainnya dalam kisah itu, dan aku menemukan beberapa orang dari sekelilingku menempati peran tokoh-tokoh utama tepat dalam posisinya. Aku juga menemukan sang Supernova (lucu-nya, si Supernova-ku ini juga sangat mengidolakan tokoh Supernova dalam Ksatria dan Bintang Jatuh), yang beberapa saat sebelumnya sempat sedikit aku libatkan dalam kisah ini. Aku kemudian menjelaskan ke dia, bahwa aku tahu pasti apa yang akan aku lakukan. Karena novel itu mengisahkan, bahwa Re kemudian segera menemukan dirinya kembali terbantu pertemanan akrab-nya dengan Supernova.
Dia terdiam beberapa saat, tapi tetap menatapku dalam-dalam. Sambil menunggu, aku mencoba masuk dan membacanya lewat mata, yang itu akhirnya hanyalah usaha yang sia-sia. Kubuang pandanganku kearah lukisan Ki Ageng Pamanahan yang dari tadi seakan-akan menatap tajam kearah kami berdua, dan mengikuti setiap detil pembicaraan kami, yang terangkat ke bahasa yang tertangkap indera maupun bahasa jiwa yang hanya tertangkap rasa. Akhirnya dia angkat bicara. Dia tidak setuju aku menjadikan kisah Ksatria dan Bintang Jatuh sebagai padanan kisah kami. Dia tidak setuju dengan akhir kisah itu.
Owh, itukah arti tatapan matanya? Aahh…. dia menghempas rasa-ku yang telah berhasil kutata kembali menjadi berantakan. Sungguh tak menghargai kerja ajaib gending jawa yang teralun magis, yang sesaat sebelumnya dalam waktu sekejap berhasil melemparkan-ku keluar dari kekalutan hati dan meningkatkan kewaskita-anku.
Kutenggak kembali Beer Jawa yang berisi rempah2. Aku sedikit membenarkan pendapatnya bahwa rasa minuman itu seperti minyak tawon. Tapi di tengah berbagai pikiran yang berkecamuk, dan perasaan yang bercampur aduk, rasa hidangan siang itu sudah tidaklah sesuatu yang esensial bagiku. Aku kemudian mengambil sikap diam, menarik nafas dalam, terpejam, berusaha kembali larut dalam alunan gending jawa dan menyatu dengan suasana tenang penuh arti yang dapat aku rasakan disitu. menyatu dengan alam kosmik, mengalun dengan nada samsara. Sungguh aku memuji pilihannya untuk menghabiskan sisa waktu siang itu disitu. Suasananya sangatlah mendukung untuk mencari ketenangan hati.
Kemudian dia melanjutkan, bahwa meski dia percaya kalau aku akan selalu berhasil mendapatkan siapapun yang aku mau, tapi dia juga percaya sepenuh hati, bahwa siapapun dia, gak akan ada yang lebih pas daripada dirinya. Memang selalu ada sosok yang dalam beberapa aspek lebih daripada dirinya, lanjutnya, tapi dia yakin sosok itupun gak akan lebih pas daripadanya. Aku tersenyum kecil, dan bilang bahwa aku tak perlu mengiyakan pernyataannya untuk menunjukkan bahwa aku setuju tanpa syarat. Iya, aku saat itu memang setuju tanpa syarat terhadap apa yang dia kemukakan. Seperti baju yang pas, baju itu menjadi tidak pas menjadi terlalu besar, terlalu kecil, terlalu menyolok ato bahkan terlalu bagus. Kemudian dia menambahkan dengan cerita mitologi Yunani mengenai soulmate dan beberapa kisah kecil lainnya.
Sebenarnya aku semakin terbawa dalam posisi yang sulit dengan pernyataannya. Sulit untuk kembali menata diriku dan menempatkan dalam posisi yang pas. Karena apapun yang dia nyatakan, bagiku tidaklah akan membawa kemana-mana. Dan akupun tetap meninggalkan tempat itu dengan membawa kenyataan tentang kebenaran firasat yang aku bawa sewaktu berangkat sehari sebelumnya
Tapi beberapa jam setelahnya, akhirnya alunan nada samsara membawa kami kepada jawabannya. Jawaban yang pasti tentang ketaklukan kami terhadap kehendak yang lebih besar. Ketika semesta yang bicara siapakan yang kuasa melawan titahnya. Akhirnya kita pun tak hendak melawan arus rasa yang ada, dan sekali lagi kami berusaha mendayung dalam ombaknya bersama. membuktikan betapa indahnya puisi-puisi yang dituliskan-nya bukan hanya ada dalam kata. Keindahan yang pas takarannya.
if everything has been written
so why worry..
we say it’s still you and me
with little left of sanity
if life is ever changing
so why worry…
we say it’s still you and me
with silly smile as I kiss your eyes and how will it be?
sometime we just can’t see
despite all wisdom and the fantasies
having you close to my heart as i say a little grace.
I’m thankful for this moment
cause I know that I grow a day older
when I promising you a kingdom,
when I cant wait to say
“Would you marry me?”