Ksatria & Bintang Jatuh, Takaran yang Pas dan Nada Samsara

March 30th, 2009 by luthfi-nr

Akhirnya aku angkat kepalaku dari meja marmer antik yang ada di bale rumah raja tanah Jawa itu. Aku tertawa kecil, yang kemudian diikuti pandangan tanya darinya….  dan aku menjawab, “Supernova! Ksatria dan Bintang Jatuh…”. dia masih belum mengerti, kutatap matanya yang dari tadi memandangku penuh arti. Kemudian aku mulai menceritakan kisah Re dan Rana di sebuah novel karya Dewi Lestari. Aku bilang bahwa diriku dari dulu selalu mengagumi karakter Re di novel itu, dan ternyata sekarang aku berkesempatan mengalami apa yang dialami Re, dan menjalani sendiri kisah di buku yang pernah menjadi kitab suci-ku itu.

Kemudian aku mulai mencari padanan tokoh-tokoh lainnya dalam kisah itu, dan aku menemukan beberapa orang dari sekelilingku menempati peran tokoh-tokoh utama tepat dalam posisinya. Aku juga menemukan sang Supernova (lucu-nya, si Supernova-ku ini juga sangat mengidolakan tokoh Supernova dalam Ksatria dan Bintang Jatuh), yang beberapa saat sebelumnya sempat sedikit aku libatkan dalam kisah ini. Aku kemudian menjelaskan ke dia, bahwa aku tahu pasti apa yang akan aku lakukan. Karena novel itu mengisahkan, bahwa Re kemudian segera menemukan dirinya kembali terbantu pertemanan akrab-nya dengan Supernova.

Dia terdiam beberapa saat, tapi tetap menatapku dalam-dalam. Sambil menunggu, aku mencoba masuk dan membacanya lewat mata, yang itu akhirnya hanyalah usaha yang sia-sia. Kubuang pandanganku kearah lukisan Ki Ageng Pamanahan yang dari tadi seakan-akan menatap tajam kearah kami berdua, dan mengikuti setiap detil pembicaraan kami, yang terangkat ke bahasa yang tertangkap indera maupun bahasa jiwa yang hanya tertangkap rasa.  Akhirnya dia angkat bicara. Dia tidak setuju aku menjadikan kisah Ksatria dan Bintang Jatuh sebagai padanan kisah kami. Dia tidak setuju dengan akhir kisah itu.

Owh, itukah arti tatapan matanya? Aahh….  dia menghempas rasa-ku yang telah berhasil kutata kembali menjadi berantakan. Sungguh tak menghargai kerja ajaib gending jawa yang teralun magis, yang sesaat sebelumnya dalam waktu sekejap berhasil melemparkan-ku keluar dari kekalutan hati dan meningkatkan kewaskita-anku.

Kutenggak kembali Beer Jawa yang berisi rempah2. Aku sedikit membenarkan pendapatnya bahwa rasa minuman itu seperti minyak tawon. Tapi di tengah berbagai pikiran yang berkecamuk, dan perasaan yang bercampur aduk, rasa hidangan siang itu sudah tidaklah sesuatu yang esensial bagiku. Aku kemudian mengambil sikap diam, menarik nafas dalam, terpejam, berusaha kembali larut dalam alunan gending jawa dan menyatu dengan suasana tenang penuh arti yang dapat aku rasakan disitu. menyatu dengan alam kosmik, mengalun dengan nada samsara. Sungguh aku memuji pilihannya untuk menghabiskan sisa waktu siang itu disitu. Suasananya sangatlah mendukung untuk mencari ketenangan hati.

Kemudian dia melanjutkan, bahwa meski dia percaya kalau aku akan selalu berhasil mendapatkan siapapun yang aku mau, tapi dia juga percaya sepenuh hati, bahwa siapapun dia, gak akan ada yang lebih pas daripada dirinya. Memang selalu ada sosok yang dalam beberapa aspek lebih daripada dirinya, lanjutnya, tapi dia yakin sosok itupun gak akan lebih pas daripadanya. Aku tersenyum kecil, dan bilang bahwa aku tak perlu mengiyakan pernyataannya untuk menunjukkan bahwa aku setuju tanpa syarat. Iya, aku saat itu memang setuju tanpa syarat terhadap apa yang dia kemukakan. Seperti baju yang pas, baju itu menjadi tidak pas menjadi terlalu besar, terlalu kecil, terlalu menyolok ato bahkan terlalu bagus. Kemudian dia menambahkan dengan cerita mitologi Yunani mengenai soulmate dan beberapa kisah kecil lainnya.

Sebenarnya aku semakin terbawa dalam posisi yang sulit dengan pernyataannya. Sulit untuk kembali menata diriku dan menempatkan dalam posisi yang pas. Karena apapun yang dia nyatakan, bagiku tidaklah akan membawa kemana-mana. Dan akupun tetap meninggalkan tempat itu dengan membawa kenyataan tentang kebenaran firasat yang aku bawa sewaktu berangkat sehari sebelumnya

Tapi beberapa jam setelahnya, akhirnya alunan nada samsara membawa kami kepada jawabannya. Jawaban yang pasti tentang ketaklukan kami terhadap kehendak yang lebih besar. Ketika semesta yang bicara siapakan yang kuasa melawan titahnya. Akhirnya kita pun tak hendak melawan arus rasa yang ada, dan sekali lagi kami berusaha mendayung dalam ombaknya bersama. membuktikan betapa indahnya puisi-puisi yang dituliskan-nya bukan hanya ada dalam kata. Keindahan yang pas takarannya.

if everything has been written
so why worry..
we say it’s still you and me
with little left of sanity

if life is ever changing
so why worry…
we say it’s still you and me
with silly smile as I kiss your eyes and how will it be?

sometime we just can’t see
despite all wisdom and the fantasies
having you close to my heart as i say a little grace.

I’m thankful for this moment
cause I know that I grow a day older
when I promising you a kingdom,
when I cant wait to say
“Would you marry me?”

Tinton Wisdoms

January 1st, 2009 by luthfi-nr

- keterkenalan, kekayaan, pacar akan dtg dg sendirinya jika qta berprestasi…(mengutip Agnes Monica)

-when sumbody think u’re nothing, start thinking that u’re sumthing, so that no one take u for granted, so that u’re motivated to be sumthing…but when sumbody think that u’re sumthing, start to think that u’re nothing… so that u stay on earth…(by Tinton himself)

-qta memang tdk bisa menyelamatkan dunia, tapi dg menyelamatkan 1 jiwa, itu bisa jadi langkah awal untuk menyelamatkan dunia…(by Tinton himself)

- lari dr kehdpan duniawi, berguna gawe wong akeh…(by Tinton himself)

- if i lay here, if i just lay here…would u lie with me and just forget the world…(mengutip lirik Snow Patrol dalam lagu Chasing Cars)

-dont try to be a man of success…try to be a man of value…(mengutip kakak kelasnya)

all taken from a chat with Tinton GaY (Galih Yudianto, maksudnya) yang entah kerasukan apa malam itu, yang waktu chatting gak ngomong sing jorok-jorok, eh malah ngomong super serius tentang life & wisdoms.

PS: beneran toh Ton, sing ngomong mau awakmu, jangan-jangan ada orang pake YM-mu ngobrol karo aku. he he

She drives me crazy II

January 1st, 2009 by luthfi-nr
30-dec-2008 19:05:18
she sent me a SMS, and she said:
——
Aslm.
Aq demam
bolehkah aq bilang aq merasa sakit
seluruh tubuhku terasa sakit seperti kulit dingin yang ditusuk2
——-

Segera aku balas sms itu dengan sebaris do’a untuk kesembuhannya, serta menanyakan kondisi detailnya dan posisinya saat itu (di kantor, di rumah atau di rumah sakit?). Aku agak panik, segera aku naik ke lantai dua dan berusaha untuk bermeditasi dan berdo’a. berusaha dengan sepenuh jiwa, dengan sedikit kemampuan spiritual yang ada, untuk ikut membantu menghilangkan penderitaannya.

Sebenarnya, aku tidak sepenuhnya bisa berkonsentrasi. Karena berbagai bayangan dan kenangan tentangnya menggangguku. Dan yang paling kuat adalah bayangan peristiwa beberapa waktu yang lalu, yang sedikit seperti deja vu dengan keadaan sekarang.

Waktu itu dia juga sakit tiba-tiba dalam sebuah penerbangan bersamaku. karena kami besama-sama rombongan, aku tidak berbuat banyak waktu itu. Aku pikir, dah ada beberapa teman lain yang lebih tau soal medis, dan mereka juga sudah menghubungi krew pesawat. Selain itu, jauh lebih efektif bagiku untuk berusaha membantu dengan cara yang lain, dan bukan dengan ikut mengerubungi dia dan menanyakan hal yang berulang-ulang yang aku yakin itu semakin mengganggunya, bukan membantu penyembuhannya.

Tapi, meski secara fisik aku tak berbuat sesuatu, tapi aku tahu dan yakin, akulah orang yang paling concern terhadap sakitnya. Aku mengerahkan segala upayaku untuk ikut menyembuhkan dia dengan mengkonsentrasikan energiku kepadanya. Ketika itu aku duduk di kursi yang berada tepat di depan kursinya, tak yakin bahwa upayaku akan membawa hasil. dan lebih tak yakin lagi bahwa dia tahu bahwa aku ikut membantunya. bagaimana bisa dia tahu,sedangkan aku tidak menunjukkannya.

Seperti yang aku bilang dalam tulisanku sebelumnya, segala sesutu yang berkaitan dengannya selalu membuatku salah langkah dan salah tingkah. ketika itu sudah menjadi rahasia umum kalau aku memperhatikan dia lebih dari temen-temen yang lain. Salah seorang teman yang duduk disampingnya mulai mencoba menggangguku. mempertanyakan keperdulianku padanya pada keadaan seperti itu. Sebuah gangguan kecil, yang bagi orang yang sudah belajar mengenai “ilmu kebal” sepertiku seharusnya sama sekali bukan masalah. tapi entah kenapa, saat itu juga, setelah beberapa kali dia mengulang gangguannya padaku, tiba-tiba aku murka dan mengamuk dengan mengatai-nya, serta menjelaskan bahwa aku juga talah dan sedang melakukan sesuatu untuknya. bahwa aku adalah orang yang paling perduli pada keadaanya saat itu, meski semua orang tak tahu.

Ini adalah satu dari sejuta kebodohanku yang diakibatkan kegilaanku padanya. kenapa pula aku harus marah dan mengungkapkan apa saja yang sudah aku lakukan saat itu untuknya. dia hanya sedikit tersenyum melihat aku bertengkar gara-gara dia, senyum acuh-tak acuh sebenarnya. sesuatu yang sangat jauh dari yang aku harapkan. Aku tahu dia masih belum sembuh dari serangannya dan pertengkaranku kemungkinan besar malah menambah penderitaannya, tapi setidaknya dia bisa sedikit membelaku. Alih-alih membelaku, dia malah melerai dengan memintaku untuk diam dengan sebuah bentakan kecil. Aku merasa sedikit terluka dengan sikapnya, setelah apa yang aku lakukan buat dia (mestinya dalam kondisi normal, aku tidak akan terluka oleh goresan kecil seperti itu).

Bayangan mengenai peristiwa itu masih menghantui meditasiku. Aku berfikir, akankah upayaku bersambut dengan hal yang positif, ataukan akan sama dengan pengalaman sebelumnya, aku malah mendapatkan kenyataan pahit. Iya, aku akui! aku tidak dapat sepenuhnya tulus dan ikhlas dalam melakukan hal ini. dan itu selalu terjadi tiap kali aku bertindak terhadap sesuatu yang berkaitan dengannya. Ada pamrih, perasaan ingin dibalas, tidak lepas, mengharap kembali, dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah lama aku singkirkan secara perlahan dalam hidup. I just can’t be my self.

Akhirnya, setelah aku rasa cukup, aku kirim sms ke dia, tanya keadaanya, dan bilang bahwa aku berusaha sekuat tenaga untuk membantu kesembuhannya. setelah agak lama tidak ada balasan, dan aku mulai berhenti berharap bahwa smsku akan dibalas, tiba-tiba datang jawaban dari dia yang membuat perasaanku melambung tinggi.

30 dec 200 19:55:26
she said:
———-
Thanks alot Luthfi
u always do your best
i remember that you heal me in the board when we were going home …..
Thanks God it’s going warm, tp perasaan skrng kakiku kram tanganku kesemutan hehehe
mukaku merah, kata ibu mungkin tensi naik krn riwayat keluarga he he he
jd curhat.
jd aku makan timun sambil makan ocehan ibu
—————

Kenyataan bahwa dia mulai membaik sangat menggembirakanku. sangat amat bahkan. tapi bagaimanapun juga itu tak mampu mengalahkan kegembiraanku menyadari kenyataan bahwa dia masih ingat peristiwa di pesawat itu, terlebih lagi dia mengapresiasi usahaku sekarang dan waktu itu. Segera kubalas sms itu (aku takut dengan meneleponnya justru mengganggunya) menyatakan kegembiraanku, dan keterkejutanku bahwa dia masih mengingat peristiwa itu. juga rasa lega ku, tahu bahwa dia berada dirumah ditengah-tengah orang yang pasti akan merawatnya dengan baik. sebelum mengirimkan sms itu aku masih sempat membayangkan mukanya yang memerah, tentunya akan menambah kecantikannya.

Selang skitar 30 menit kemudian datang sms lagi yang menyatakan kalo dia sudah bener-bener sembuh, padahal dia sempat berfikir kalau sakitnya bakalan lama. dia juga meceritakan kalo nafsu makannya sudah kembali, dan setelah seharian tiap melihat makanan merasa mual, dia saat itu merasa lapar dan pengen makan. Aku teringat dengan makanan yang selalu dipesan, tiap kali kami makan berdua. tidak pernah tidak, selalu pesan bakso. Aku jadi sentimentil dan kepingin mengirimkan bakso untuknya. Aku merasa betapa konyol dan bodohnya aku sempat berfikir seperti itu.

Peristiwa sore ini dan peristiwa di pesawat itu hanyalah sekian diantara banyak peristiwa lain yang benar-benar membuatku seperti bukan diriku. Menjadikanku benar-benar emosional dan sentimentil. sesuatu yang sangat tidak aku sukai dan selalu berusaha aku hindari, karena akan membuatku menjauh dari citra diri yang ingin aku wujudkan. Iya, aku pengen dipandang sebagai orang yang bijak, dewasa menghadapi masalah, stabil dan tentunya pintar dan tahu banyak hal.

Aku sekarang jadi berfikir kemungkinan-kemungkinan ke depan. Apakah hal yang seperti ini akan baik jadinya buat aku, bagi citra diri yang ingin kubangun, bagi pilihan bentuk kehidupan yang ingin aku tuju dan putuskan untuk menjalaninya?? adakah diriku dan pilihan kehidupanku mampu mengkompromikan cinta platonik (meminjam istilah salah satu teman) seperti ini?? Akankah perasaan yang meluap-luap ini mampu mengendap dan mengkristal dan jadi suatu bentuk hubungan perasaan yang sesuai dengan yang aku idamkan ataukah tetap akan seperti itu dan mengganggu kebebasan hidupku dengan iktan perasaan itu??? Akankah aku memilih untuk berusaha mengulang kembali sejarah dengan melakukan pembenahan disana-sini terhadap cara ku menghadapinya, ataukah aku akan tetap konsisten dan memilih untuk tetap mencari cinta yang membebaskan seperti yang selalu kucitakan??

Oh Tuhan, aku benar-benar menunggu pertanda-Mu

She drives me extremely crazy

December 21st, 2008 by luthfi-nr

tempat itu…
malam itu…
aku kembali
memenuhi janjiku
tapi kau telah pergi
tinggalkan sepi…..

Jam menunjukkan pukul empat dini hari. Aku berjalan pulang dari
bungalow tempat aku menghabiskan waktu setelah pesta malam itu. Dengan
sengaja aku mengambil jalan di sekitar pantai yang agak memutar.
Sesampainya di tempat kami berpesta, sesuai dengan dugaanku, suasanya
sunyi senyap tiada satupun mahluk bernyawa yang masih berkeliaran. aku
memang tidak berharap dia masih ada disitu, tapi aku merasa perlu untuk
membunuh rasa bersalahku dengan datang kesitu untuk memenuhi janjiku.
“Aku akan kembali!” kata-kataku yang kubisikan sesaat sebelum
meninggalkannya, terngiang-ngiang ditelingaku sepanjang malam itu . aku
segera menuju kursi yang sekitar 5 jam sebelumnya ditempatinya. kursi
malas itu terletak sekitar 3 meter dari bibir pantai, aku berhenti
sejenak dan tiduran di kursi itu. menatap fajar merah yang mulai
merekah, sambil berfikir…..

dia adalah orang yang selama 3 bulan terakhir banyak sekali membuatku
melakukan tindakan-tindakan yang sangat-sangat bodoh. kecantikannya
yang sangat amat mempesona menantang rasa kelelakianku untuk
menaklukannya. aku kerahkan segala daya untuk sekedar menarik
perhatiannya. aku berhasil, tapi tak pernah lebih jauh dari perhatian.
aku tahu aku ada di pole position dalam race untuk memperebutkannya,
bahkan aku hampir selalu leading selama 3 bulan itu. tapi aku tak
pernah merasa benar-benar memenangkan hatinya. aku tahu beberapa
prinsip yang dia pegang erat dapat menjadi alasan yang paling mudah
menjawab kegagalanku untuk mendapatkan kaya “iya!” darinya. kenyataan
bahwa dia juga belum pernah memberikannya pada orang lain juga
mendukung alasan ini. tapi seperti biasanya, aku tetaplah orang yang
terlalu over pede untuk menyerah pada satu alasan.

Waktu itu aku sudah dalam tahap putus asa, dan itu yang mungkin
membuatku memutuskan untuk mulai memalingkan ke beberapa wanita lain
yang sudah lama mengantri di belakangnya. Tapi setelah aku analisa
lebih dalam, tetap saja dia yang selalu menjadi alasan terbesar dalam
hampir semua tindakanku selama tiga bulan itu. Bahkan ketika malam itu
aku memilih untuk meninggalkannya, dan memenuhi permintaan orang lain
untuk mengantar pulang dan menghabiskan sisa malam bersamanya, aku tahu
sekali bahwa itu aku lakukan untuk sedikit membuatnya cemburu (yang
waktu itu aku sendiri tidak yakin akan berhasil).

aku rasa saat itu adalah titik akomodador dalam usahaku untuk
mendapatkanya. saat itu aku sudah berkata pada diriku sendiri untuk
meninggalkan segala ego-ku, dan mulai berkompromi dengan keadaan, toh
ada banyak sekali wanita lain yang bisa segera aku dapatkan dengan jauh
lebih mudah. kubujuk pula diriku dengan kenyataan, bahwa sampai saat
itupun aku masih merasa berada di list pertama baris preferensi dia
terhadap cowok yang mengejar dia saat itu. Paling nggak diantara semua
cowok yang ada dalam tiga bulan masa perkenalanku dengannya.

Pagi itu aku pulang ke bungalow ku sendiri, dengan tetap membawa
perasaan bersalah, karena telah mengabaikan janjiku untuk kembali. dan
perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang dari diriku, bercampur
dengan perasaan kalah dan tidak diterima, perasaan malu dan kecewa
menghadapi kenyataan bahwa aku tidak mendapatkan hal yang paling aku
inginkan dalam tiga bulan itu, padahal aku mendapatkan semua
keinginanku yang lain. Perasaan-perasaan ini seringkali tiba-tiba
mencuat dari bilik-bilik persembunyiaannya di hatiku, dan membabat
habis ego kelelakianku.

Perasaan bersalah itu seakan-akan semakin menemukan momentumnya ketika
dua hari yang lalu, setelah sekian lama setelah kejadian itu, dia
mengaku bahwa malam itu dia menungguku, sebelum kemudian memutuskan
untuk pergi (ya iya lah, masak menunggu sampai jam empat pagi). Aku
tersadarkan bahwa lagi lagi aku membuat satu kebodohan besar. dan
seperti yang lainnya, kebodohan itu juga berawal dari kegilaan-ku
padanya. aku tersadar, bahwa meskipun saat-saat itu adalah masa-masa
terbaik kemampuan emosional & spiritualku, aku tetap saja tidak
mampu melihat dengan jernih pertanda yang ada karena terbutakan oleh
pesonanya. emosi dan rasa yang meluap di hati telah menenggelamkan
semua logika dan kebeningan pikiran dan jiwa. Kegilaanku padanya
mebuatku menjadi bodoh.

betapa menyesal aku ketika malam itu memilih untuk menghabiskan waktu
dengan orang yang gak sepenuhnya aku inginkan, dan meninggalkan
kesempatan untuk bersamanya. arrrgghhhhh…!!!!!!!!!!!!

She drives me extremely crazy
even now. she make me wrote this bloody embarrassing notes

PS:
Puteri…adakah dirimu membaca tulisanku ini?
I was so happy that finally I got a chance to re-tell our experience in two side story
and really agree with what you said “biarlah kisah yang lalu itu
menjadi modal senyum dan semangat untuk menatap masa depan (kita
berdua??? hwa ha ha ha)”

Welcoming Dinner AIYEP 08-09

December 21st, 2008 by luthfi-nr
Sore tadi temen-temen peserta AIYEP 08-09 datang

setelah sedikit panik karena jadwal penerbangan yang diajukan sekitar 1,5 jam dan info baru diterima 2-3 jam sebelum kedatangan mereka, akhirnya semua acara lancar seperti yang direncanakan

Pesawat mendarat sekitar pukul 16.45. Berbeda dari penumpang pesawat mandala yang sore itu membawa mereka terbang dari Jakarta ditengah badai yang lumayan menakutkan, turun dari pesawat, temen-temen sudah langsung dijemput bis khusus bandara, dan langsung dibawa ke VIP room bandara Juanda yang katanya paling mewah di negeri ini.

di VIP room sendiri sisa-sisa penyambutan presiden SBY siang sudah tidak nampak sama sekali. temen-temen yang turun dari pesawat dengan wajah pucat karena badai yang sempat mengganggu penerbangan, disambut oleh Gus Ali (Ali Sya’roni, Kadispora) dan Pak Bambang (waka dispora) dengan pengalungan bunga. meski rencana utuk menyambut mereka dengan kesenian khas jatim (reog) dibatalkan karena dari jadwal yang ada sebelumnya, mereka akan datang malam hari, hal itu tidak mengurangi kegembiraan temen-temen, karena setelah perjalanan dan orientasi di Sydney dan program re-entry yang menurut mereka melelahkan, mereka disambut dengan penuh kehangatan di Jawa Timur. Hal itu diakui salah satunya oleh Tiwie, group leader indonesia.

Setelah sedikit basa basi di depan VIP Room (cuap-cuap dengan peserta, tanpa acara sambutan resmi dll) mereka langsung dipersilahkan untuk masuk dan mencicipi masakan khas jawa timur yang sudah siap terhidangkan di salah satu ruangan. Pak Ali Sya’roni sendiri menyambut peserta dengan sangat antusias, apalagi ketika tahu bahwa group leader australi (drew boekel) pintar berbahasa jawa. beliau keliling dan bak seorang guide wisata kuliner, dengan bersemangat menjelaskan masing-masing jenis masakan yang ada. karena saking antusias-nya terhadap peserta, akhirnya robongan kemenegpora (Bu Adiati, Pak Abri, Pak Yadi) agak sedikit terabaikan oleh beliau.

Setelah selesai makan, Nana (ketua PCMI Jatim) memberikan sedikit pengarahan yang dimulai dengan sedikit pertunjukan dari PCMI jatim (yel-yel disertai gerakan) yang kemudian diikuti oleh semua peserta. Acara yang merefresh peserta ini disertai dengan perkenalan dari Alumni dan pejabat dispora yang akan membantu mereka selama program. Peserta di kasih bekal program kit yang terdiri dari buku panduan (berisis hampir semua informasi tentang Surabaya dan lumajang, include tempat wisata kuliner, oleh2, temapt hiburan, telp2 penting, dll)) dan juga beberapa guidance selama program (jadwal, daftar host fam dll). Besok insyaAllah masih akan ditambah lagi dengan goodie bag dari sponsor (indosat, atas kerjasama dengan mbak Pipit, alumni Kanada, markom Indosat)

Setelah selesai perkenalan, peserta diminta untuk mengecek bagasi mereka yang sudah diambilkan porter dan sudah menunggu di depan ruangan untuk diangkut truk terpisah. selesai mengecek bagasi, peserta naik ke bus dan menuju ke Hotel Garden Palace denga dikawal patwal dari kepolisian surabaya. Jalanan macet di surabaya karen genangan air setelah hujan badai jadi gak ada artinya karena pengawalan polisis ini. Peserta sempat bersorak ramai, ketika rombongan menerabas lampu merah, laksana tamu negara penting (emang iya kan).

Sesampainya di hotel bintang 4 garden Palace Hotel, mereka langsung dibagikan kamar dan dipersilahkan istirahat untuk acara esok paginya. karena jam masih menunjukan pukul 20.00, sebagian dari mereka dengan di pandu oleh Tuz-tuz menikmati Surabaya di malam hari, di sekitar Hotel Garden yang memang ada di Jantung kota Surabaya.

Besok Pagi mereka akan disambut bapak Gubernur di Grahadi dengan acara yang lebih meriah tentunya, sebelum meluncur ke Lumajang dan melaksanakan program disana samapai akhir Januari nanti.

Beragam pujian datang dari berbagai pihak atas penyambutan yang sangat mengesankan ini. selain dari peserta, pihak menpora pun sangat mengapresiasi kerja dipora dan panitia ini. Dan tak henti-hentinya pula ketika pujian itu disampaikan ke saya, saya balik mengatakan, bahwa ini semua tak lepas dari kerja keras dispora, terutama bu Endang, dan juga temen-temen PCMI, terutama Nana (yang menyiapkan semuanya) Anisa (Guide Book single contributor) dan Mas Diri (yang membikin master plan penyambutan).

Semoga awal yang baik ini akan terus diikuti oleh hal-hal yang lebih baik lagi dalam program ini. Buat PCMI Jatim, I’m so proud to be your family. well done. you rock, guys. Buat temen-temen peserta, thanks for being such a good participant. keep going on that.we love to have you here in east java, and we hope you don’t mind with our pickup service

REBORN

September 5th, 2007 by luthfi-nr

Jum’at malam, tanggal 31 Agustus 2007, aku menemukan diriku yang baru. Setelah hampir putus asa, akhirnya aku menemukan kembali sesuatu yang selama 6 tahun ini secara berlahan-lahan hilang dari kehidupanku. Even, I fell much better and great than before. I feel that I’m the most grateful in the world.I can see clearly my bright future. Aku bahkan, dalam waktu sekejap mampu merangkai kembali mimpi-mimpiku yang sempat hilang tergerus oleh derasnya arus kehidupan.

to be continued….

Kumpulan HAIKU

April 11th, 2007 by luthfi-nr

"Haiku" adalah jenis puisi yang berasal dari jepang, terdiri dari tiga bait.

dibawah ini kumpulan haiku yang tercipta pagi ini, dengan nmencuri-curi waktu di sela death line pekerjaan. met menikmati…

ku ingin
ku damba
wisuda……

———————————-

ingin ku lempar
jauh tinggi ke awan
toga kemenangan

————————————–

ku janjikan
ku ingkari
tetap ku impikan

————————————-

Langit biru
Laut biru
Bilakah ibuku terharu biru..

—————————————

Pagi Cerah
Hari yang indah
Lulus… Kapankah

—————————————-

Buktikan merahmu
Gak ada loe, gak rame
Kuliah..? Bosen ah….

Rengeng-Rengeng

July 11th, 2006 by luthfi-nr

Menulis tentang menulis skripsi itu ternyata jauh lebih mudah daripada menulis skripsi itu sendiri. Jelas ini bukan soal keahlian yang di butuhkan, karena terus terang aku sendiri sama sekali tidak ahli dalam menulis (apa pun), dan lagian kalo dalam soal akademik, aku juga termasuk sangat cerdas, kalo gak boleh dibilang jenius (he he he, sebenarnya agak o’on dikit sih, tapi gak banyak kok, dikit aja). Jadi, lambatnya skripsiku itu lebih karena……, karena……, apa ya?????

APOLOGY

Aku, selain orang yang sangat cerdas (he he he, sapa lagi yang muji, kalo tidak dipuji sendiri) juga sangat cerdik, terutama dalam menipu diri sendiri. Begini ceritanya, Aku adalah orang yang cenderung menghindari sesuatu yang tidak aku suka, dan salah satu yang paling membosankan menurutku di dunia ini adalah belajar untuk ujian. Perlu diketahui, bagiku beda sekali (seperti kentut dengan menara, beda banget kan???) belajar karena ingin tahu akan sesuatu atau karena motivasi-motivasi yang timbul dari diri sendiri, dengan belajar karena keharusan. Dengan premis  mayor dan premis minor di atas, kalau anda cerdas, maka bisa diambil suatu kesimpulan logis, aku akan cenderung menghindari belajar untuk ujian.

Tapi yang sebenarnya lebih menarik adalah, caraku untuk menghindari belajar itu sendiri. Karena aku merasa bersalah kalau tidak belajar tanpa alasan yang jelas, maka bisa di pastikan bahwa di masa-masa ujian bajuku akan bersih semua, kamarku juga rapi (padahal jarang-jarang kamarku rapi). Apa hubungannya?? Untuk menghindari rasa bersalah yang berlebihan, maka aku menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal remeh-temeh yang sebenarnya sangat tidak penting kalau dibanding ujian itu sendiri. Ini adalah salah satu bentuk kecerdikanku dalam menipu diri sendiri.

Trus hubungannya dengan skripsi? Sangat amat kebetulan sekali, aku pada saat ini udah punya kesibukan reguler (sebenarnya sibuk beneran gak sih?), jadi gak perlu menggunakan kecerdikanku untuk menipu diri sendiri, aku dah punya jalan untuk menyakinkan diriku bahwa aku punya alasan untuk tidak mengerjakan skripsi. Padahal, ya…… gak jauh beda sama cuci baju dan bersih-bersih kamar waktu ujian diatas, pekerjaanku sebenarnya tak terlalu menyita waktu sehingga aku sama sekali tak punya waktu untuk skripsi. Tapi cukuplah kalau cuma sekedar di buat alasan buat diri sendiri dan orang-orang yang rese’  yang suka tanya hal-hal yang berbau SARA (Skripsi, Angkatan, Rabi/nikah, dan Akademik).

Tapi…….,  apa memang itu penyebabnya???

Dulu…., kalau punya keinginan untuk mendapatkan/mencapai sesuatu, yang aku anggap penting, maka salah satu hal yang paling sering aku lakukan adalah membikin perjanjian dengan Yang Punya segala sesauatu. Contohnya gini, waktu aku pingin lulus UMPTN dulu, aku membuat perjanjian, bahwa kalau mulai waktu itu (beberapa hari setelah ujian UMPTN) sampai keluar pengumuman, aku akan selalu sholat malam, dan kalau aku sekali saja tidak melakukannya, maka aku rela tidak masuk UMPTN, tetapi kalau aku berhasil menepati janjiku, maka aku minta di kasih keinginanku. Jadi metodeku kebalikan kebanyakan orang yang bernadzar, yang minta dulu baru ngasih. Aku lebih suka menunaikan dulu kewajibanku, baru minta konpensasi dari apa yang tak lakuin. Metode ini sering tak pake dan hampir2 gak pernah gagal (dulu), contohnya ya UMPTN itu, aku yang tak pernah SMA dan tak pernah mengenyam pelajaran yang di ujikan, berhasil lolos berkat (menurut keyakinanku) tirakatku tadi, tentunya dengan tidak mngenyampingkan faktor lain (do’a ibu, misalnya). Contoh lainnya banyak, tak perlu tak sebutin satu-per satu lah.

Sialnya, belakangan ini aku beberapa kali membuat perjanjian, tetapi aku tak pernah bisa menepati apa yang aku sendiri janjikan. Pun demikian dengan skripsi, aku bahkan dah mencoba untuk beberapa kali membujuk-Nya untuk me-renewing MOU yang aku buat, tapi pasti aku sendiri yang kemudian …………………. (apa ya, istilahnya? itu lho…… bahasa hukum yang artinya menyalahi perjanjian/kontrak, o ya “wan-prestasi”). Ya…. kalo diruntut-runtut, itu semua pasti ada hubungannya dengan iman manusia yang “yazdad wa yankus” (yang selalu dibuat pembenaran bagi kebanyakan orang, termasuk aku sekarang ini).

Tapi………………, apa cuma karena itu? Yang logis dikit po’o!

Mungkin orang yang paling tepat dalam mengggambarkan diriku cuma ibu. Beliau pernah bilang, kalau aku pergi, kemanapun tujuannya, dan di tengah jalan ada katak melompat, pasti akan berhenti untuk melihatnya dulu. Memang, aku cenderung akan menikmati suatu hal yang menggembirakan dan baru bagiku, daripada segera menyelesaikan apa yang seharusnya tak kerjain. Terkadang aku terlalu menikmati proses dan lupa tujuan (goal). Jadi, ibaratnya pemain bola, aku lebih seperti Cristiano Ronaldo, Figo, atau Ariel Ortega, yang sering keenakan menggoreng bola, sampai lupa mengumpan dan bikin gol (padahal aku gak pernah suka gaya main bola yang seperti itu). So, aku memang orangnya memang kurang efektif, kecuali kalo dah kepepet. Masalahnya kayaknya sampai sekarang aku masih merasa belum kepepet banget dalam hal yang satu ini(skripsi).

Tapi…… apa itu ya, alasannya?

Sewaktu aku dapat kesempatan untuk ikut reseach grant, aku harapanku untuk menyelesaikan skripsi dengan cepat sempat membuncah. Aku yakin, dengan adanya death-line yang pasti, aku bisa akan terpaksa untuk menyelesaikannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, reseach grant semakin gak jelas, dan semakin tak ada death-line yang pasti, ya akhirnya semanagt dan harapanku jadi meluntur lagi.

Tapi………….,kok mulai cari alasan dengan menyalahkan keadaan! Bukan dari diri sendiri.

PPAN (Pertukaran Pelajar Antar Negara) ke Aussie sebenarnya sempat kuharapkan menjadi leverage (pengungkit, bagi yang gak ngerti artinya) bagi pencapaian-pencapaianku selanjutnya. Setelah lolos beberapa kali seleksi yang diadakan, aku kok gak yakin kalo itu cocok untukku, bukan karena aku gak mampu atau gak punya peluang, tapi lebih karena beberapa alasan yang tak bisa kusebutkan disini. Trus hubungannya dengan skripsi?….. PPAN sempat menyita konsentrasiku waktu sedang semangat-semangatnya mengerjakan skripsi. Dan ketika segala kesibukan itu sudah mereda, eh semangat 45-ku juga sudah mulai hilang.

Tapi… apa gak bisa di gali kembali, semangat yang hilang itu???

Sebenarnya masih lebih dari buuuuuuuuuuuuuuuanyak alasan-alasan lain untuk sekedar mencari apology bagi kagagalanku menyelesaikan skripsi dengan cepat, tetapi sampai sekarang aku belum bisa  menemukan alasan utamanya. Kayaknya semua alasan itu bagaikan vicius circle yang gak ada ujungnya (wualah, opo wae yo…).

BLACK SHEEP

Kalo berkaca pada piala dunia yang baru saja selesai, ada satu hal yang menarik. Tiap kali setelah pertandingan, terutama yang krusial, pasti selalu muncul pahlawan dan pecundang. Contohnya pada laga final, Trezeguet  menjadi pesakitan, setelah gagal memasukkan penalty. Padahal, belum tentu kalau pemain yang lain yang mengambil penalty akan berhasil. Kemudian Grosso yang mengambil penalty terakhir bagi Italy juga jadi pahlawan. Trus, kalau pemain lain yang nendang terakhir apa kemudian dia yang jadi pahlawan??? Lagian kan banyak pemain Italy lainnya yang jago penalty. Kan kalo kayak gini jadi absurd, jadi gak jelas, apa pahlawan yang menciptakan kemenangan, atau kemenangan yang menciptakan pahlawan??? Trus apa kekalahan yang menciptakan kambing hitam, atau kambing hitam yang menciptakan kekalahan??? Karena kalau dilihat, ada kecenderungan bahwa selalu harus ada bertanggung jawab atas suatu kegagalan atau keberhasilan. Sehingga akhirnya, meskipun sebenarnya gak selalu ada pahlawan atau kambing hitam, tetap aja dicari-cari dan diadakan.

Hubungannya???

Ya……………., maksudku aku tidak mau sekedar mencari kambing hitam atas permasalahanku. Tapi, kayaknya bagaimanapun juga aku memang harus mengambil tindakan untuk segera menyelesaikan semua ini, tak perduli tindakan itu benar atau salah, karena kalaupun salah paling nggak aku kan dah bertindak, bukan hanya berdiam diri.

Tapiii……….

Betul gak ya….?

Bahwa aku harusnya cepet bertindak??

Kayaknya betul deh…..

Trus tindakannya kira2 apa ya???

Somebody help me…., pleease!!!

Catatan :
Buat yang gak ngerti, APOLOGY itu setahuku bukanlah semacam satelit atau benda langit yang lainnya, itu mah APOLLO. Kalau apology tuh basa-basi permintaan maaf yang biasanya disertai alasan (yang terkadang di buat-buat) agar bisa dimaafkan atau dimaklumi, tapi lebih jelasnya lihat aja deh di kamusnya Poerwodarminto (ada gak ya?jangan-jangan belom di bakukan).

Trus, kalo ada yang protes, bahwa tulisan ini kok gak ada isinya, gak ada kesimpulan, gak sistematis, & gak mutu (kata Dian) maka jawabannya jelas, “Judulnya aja RENGENG-RENGENG, ya jangan berharap lebih dari sekedar rengeng-rengeng dong!”. Kalau masih tetep ngeyel, gak trimo, ya….. aku maklum aja, mungkin gak njowo & gak tahu arti rengeng-rengeng.

Untung aku tidak di gundul di depan 500 orang

July 3rd, 2006 by luthfi-nr

Yaaa…..

Lagi-lagi Inggris gagal melaju ke babak berikutnya
kegagalan ke sekian kali
kegagalan yang mirip kegagalan di EURO 2004 dan piala dunia 1998
sama-sama di kalahkan oleh Scolari (dan Ricardo) melalui adu keberuntunga (kayak euro 2004) dan sama-sama bintang mudanya kena kartu merah (Rooney PD 2006, Beckham PD 1998)

Yang lebih hebat lagi (bagi aku) aku sama-sama harus memasang muka badakku.

Betapa tidak, sejak awal turnamen, SMSku tak pernah berhenti menghujani para pendukung tim-tim yang - entah dengan alasan apa -didukung oleh teman-temanku yang sesama maniak bola. tak kurang Sharuhk “Rizki kunam” Khan, Erwin “Babe”, Darto, Dedi “Ndut”, Topan, Adhianto, bu Puput, Nia, Elvan dll semua menerima SMS ejekanku ketika Inggris atau tim mereka sedang main. Eh lha dalah, tim kebanggaanku harus pulang duluan, meski dengan kepala tegak (inggris tidak kalah, skor pertandingan adalah 0-0, soal adu penalti, itu cuma ritual untuk menentukan siap yang lebih beruntung maju ke babak berikutnya).

Tapi itu semua belum seberapa, karena di PD 1998 aku mengalami yang lebih hebat
Di PD 1998 aku kena hukuman di gundul di depan 500 oranmg temen-temen santri kelas 5 Gontor, gara-gara menyelinap nonton Inggris Vs Argentina diantara kelas 6 yang udah habis ujian dan di perbolehkan nonton, padahal waktu itu aku dan temen2 kelas 5 masih waktunya ujian dan di larang menonton.

Sebenarnya bukan masalah kehilangan rambut yang baru aja ku rapikan 2 hari sebelumnya dan hasilnya sangat memuaskanku - sampai aku sehabis potong berkali-kali ngaca, terheran-heran, mengapa kok rasanya puas banget ma hasil karya tukang cukur yang mencukur sekadarnya (di pondok tukang cukur hanya 4 orang untuk 3000-an santri yang tiap bulan pasti potong rambut dikarenakan peraturan) dan baru kutemukan jawabannya setelah di gundul, firasat kali ya? - akan tetapi rasa malunya itu lho!

Gimana gak malu, aku yang terkenal gak banyak ulah (karena gak belom ada yang tahu ulah-ulah bengalku di pondok) tiba-tiba di suruh berdiri di depan 500 orang teman seangkatanku, dan mahkotaku yang paling berharga, di rampas dengan paksa dan kepras habis tak beraturan, sekena gunting bagian keamanan yang menari-nari di kepalaku.

Kalau berhenti sampai di situ saja sih gak papa. sehabis itu dampaknya gak akan hilang sampai berbulan-bulan (sampai rambut tumbuh) dan sialnya lagi, dua minggu setelahnya adalah liburan pertengahan tahun, yang artinya donatur tetapku (bapak ibu) pasti akan tahu kalau aku habis melakukan pelanggaran berat.

Ibaratnya orang sudah jatuh masih tertimpa tangga, eh ternyata jatuhnya pas terkena kotoran hewan lagi,Apes benar aku kali itu, karena ke-malu-anku (bukan “kemaluanku” lho) semakin membesar, seminggu tepat setelah peristiwa itu, sepupu jauhku, yang baru pulang dari menyelesaikan masternya di Leiden (Holland) dan akan meneruskan ngambil Doktor di Jerman (by beasiswa tentunya) menyempatkan menjengukku di Gontor (dia alumni juga). Masih teringat jelas betapa saltingnya aku ketika itu, karena meski peci selalu ku tutupkan rapat dikepala, tetap gak bisa menutupi kepalaku yang botak, dan menutupi aibku telah melakukan pelanggaran berat.

Ehm………….
Meski England dengan Golden Generation-nya (minus pelatih dan kiper) gagal menggondol Jules Rimet pulang
kayaknya aku harus tetap bersyukur, karena piala dunia kali ini, mahkotaku tetap bertahta indah di kepalaku

kayaknya memang aku harus kembali membaca ulang tulisanku sendiri yang kemaren tak posting “puasa” dan mulai menjalankanya, karena aku harus bisa puasa Comment sampai piala dunia selesai, terutama soal bola.

Puasa (doc. lawas)

June 29th, 2006 by luthfi-nr

MARI “BERPUASA”

Mungkin akan ada yang berfikir, bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk ngomong soal puasa, karena bukan musimnya, kan romadhon masih lama, masih beberapa bulan lagi. Ramadhan yang lalu juga sudah mulai pudar dari ingatan. Akan tetapi justru karena itu, saya rasa perlu untuk kita mengingat kembali tentang ibadah maha dahsyat yang satu ini,

Sebelum kita benar-benar lupa akan pelajaran yang kita dapat selama kita menempuh tempaan rohani di bulan romadhon yang lalu, mari kita sedikit menengok ke belakang, ke hari-hari yang kita lalui setelah bulan suci itu, apakah kita selama hampir 6 bulan ini mengalami perbaikan kualitas kita sebagai manusia, ataukah biasa-biasa aja, atau malah sebaliknya?

Sebenarnya saya tidak mau berbicara soal dampak bulan romadhon bagi kehidupan kita, tapi lebih kepada makna dari puasa itu sendiri (meskipun tentunya nanti pasti ada kaitannya dengan persoalan diatas)

Puasa, sebagaimana yang saya pelajari sebelum saya menjadi “mantan santri” (kata Pak Bos), dapat diartikan “menahan”, atau kalau menurut ilmu fiqh “Menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, dari mulai terbitnya fajar, sampai terbenam matahari”.

Kalau merujuk ke Emha dalam bukunya “Dan Tuhan Pun Berpuasa”, Puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat unik, karena semua ibadah lain pahalanya secara langsung diberikan kepada hambaNya, akan tetapi Puasa adalah satu-satunya ibadah yang benar-benar diperuntukkan bagiNya. Bedanya lagi dengan dengan rukun islam yang lain, terutama Sholat, pada waktu Sholat kita diajak sejenak untuk meninggalkan dunia dan berekreasi ke dimensi lain, yaitu dimensi ruhani dalam jiwa kita, dalam puasa pengalaman yang ditawarkannya jauh lebih hebat lagi. Betapa tidak, kita tetap dihadapkan dengan kehidupan dunia dengan segala kompleksitas permasalahannya, di sisi lain kita juga dituntut agar selalu “menahan” diri terhadap hal-hal yang kalau kita tidak dalam keadaan berpuasa hal tersebut diperbolehkan bagi kita. Atau dengan kata lain, tanpa meninggalkan dunia kita diajak juga untuk selalu ingat dimensi lain dalam kehidupan kita, yaitu dimensi ruhani.

Berbicara mengenai “menahan”, (menurut saya pribadi) inilah makna sebenarnya dari berpuasa, yaitu menahan dalam artian seluas-luasnya. Maksud saya bukan hanya menahan dari makan-minum dan hubungan suami-istri, tapi lebih dari itu. Dan, kemampuan untuk “menahan” inilah yang diajarkan kepada kita selama bulan Puasa yang akan kita jelang, karena kemampuan menahan ini bagaimanapun sesuatu yang sangat penting dan vital dalam hidup kita.

Untuk lebih jelasnya, sebagai contoh, kalau kita misalnya kita menghadapi seseorang yang sedang marah-marah kepada kita dengan alasan yang tidak jelas, maka adalah sesuatu yang sangat wajar bila kita terpancing juga untuk membalas kemarahannya, akan tetapi seharusnya kita berpuasa(menahan) terhadap kemungkinan itu, dan mengambil jalan yang jauh lebih baik untuk menyelesaikan persoalan itu. Demikian pula kalau misalnya seseorang yang sudah berpasangan, dihadapkan pada kenyataan bahwa dia di jatuhi panah asmara untuk seseorang yang bukan pasangannya, sedangkan dia sendiri sedang mengalami masa-masa krisis dengan pasangannya, maka puasa jua-lah pilihan terbaik.

Contoh yang lebih kompleks lagi, kalau misalnya seseorang yang mempunyai jabatan di perusahaan atau pemerintahan, dan dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan uang yang di kelolanya untuk kepentingan pribadi, dan sedangkan tindakan itu di perbolehkan menurut hukum, akan tetapi dia tahu pasti bahwa tindakannya akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, maka kembali disinilah puasa harus mengambil peran dalam kehidupannya.

Jadi, sebenarnya berpuasa tidak hanya dapat dilakukan pada hari senin-kamis atau bulan romadhon saja, akan tetapi dapat dilakukan setiap saat, bahkan pada malam hari. Dan jangan salah, seseorang yang tidak sedang menjalankan puasa (dalam arti sempit) bukan berarti dia tidak berpuasa(dalam arti yang luas), dan begitu pula sebaliknya.

Yang menjadi masalah bagi saya, selama ini saya tak pernah bisa berpuasa secara benar dan sehingga seringkali saya gak bisa menghindari hal-hal yang seharusnya saya hindari, meskipun saya selalu berusaha untuk berpuasa sepanjang waktu. Bahkan kecenderungannya saya selalu mengungkapkan apa yang ada dalam benak dan pikiran serta keinginan saya dalam bentuk yang verbal. Maka kalau misalnya rekan-rekan menemukan saya sedang dalam keadaan “berbuka” dari puasa saya, sudi kiranya mengingatkan dan memakluminya, sambil tetap “berpuasa” untuk marah/jengkel kepada saya. Karena InsyaAllah saya juga selalu mengusahakan hal yang sama.

Bagaiman menurut teman-teman?